Selasa, 18 Oktober 2011
Senin, 03 Oktober 2011
Selasa, 20 September 2011
IBU
Hadirkan dalam benak kita, seorang perempuan yang dengan susah payah tengah melahirkan bayi yang dikandungnya. Rasa sakit yang tak mampu terucap lewat kalimat, rintihan tangis menahan kepedihan menanggung beban yang tak ringan dalam perutnya yang hingga 9 bulan ia bawa kemana-mana, harap dan cemas yang selalu terasakan dalam jiwa yang dengannya ia hanya mampu bersandar kepada pencipta dirinya dan yang Maha Kuasa menentukan segalanya…terus hadirkan bayangan itu dalam benak kita…ketika bayi yang dikandungnya benar-benar lahir dengan selamat disertai tangis saat keluar menghirup udara dunia, perempuan itu tersenyum lebar seolah lenyap rasa sakit, pedih dan perih yang baru saja ia rasakan…berganti kebahagiaan yang tak terkatakan. Kelelahan badan tidak ia rasakan meski butiran keringat memenuhi sekujur tubuh dan wajahnya yang tampak letih. Air mata kebahagiaan mengalir di kedua pipinya sambil terus saja ia menciumi buah hatinya yang baru beberapa saat lahir dari perutnya. Siapakah perempuan itu? Dia adalah ibu kita. Ya, ibu kita…sosok tegar namun penuh kasih sayang yang telah melahirkan kita. Ibu yang dengan kasih sayangnya mengasuh, merawat dan membesarkan kita. Ibu yang dengan segenap cintanya yang tulus telah mendidik diri kita. Pengorbanan yang luar biasa telah ia lakukan, peluh dan keringat seolah hampir habis tertumpah demi membahagiakan kita, tidak jarang air mata tak tertahankan keluar menetes membasahi pipinya saat kita sakit dan menderita.
Ia tak pernah rela kita mengalami kesusahan, ia ikut merasakan kesedihan saat kita berteman dengan penderitaan, ia isi hati dan fikirannya untuk kebahagiaan anaknya, kita. Lalu, apa yang sudah kita lakukan untuk ibu kita? Balasan apa yang sudah kita persembahkan untuk perempuan mulia itu? Kalimat apa yang terucap lewat lisan kita saat kita dipanggil dan diminta bantuan olehnya? Manakah yang lebih mengemuka dari sikap kita kepada ibu yang telah entah berapa lama mencurahkan kasih sayangnya kepada kita itu? Ada baiknya kita renungi dalam-dalam firman Allah swt berikut ini :
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman/31:14)
Ibu memang sosok yang demikian dimuliakan oleh Islam. Al-Ummu madrasat al-Ulaa liaulaadihaa (seorang Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya). Ungkapan ini saya kira tidak berlebihan mengingat dari ibulah seorang anak pertama kali mendapatkan pelajaran kehidupan setelah karunia hidayah naluri dan hidayah lainnya yang telah Allah berikan kepadanya. Sepanjang perjalanan sejarah kemanusiaan, kita temukan ada Aminah ibunda Muhammad saw, Bunda Khadijah yang penyayang kepada anak-anaknya buah hatinya bersama Rasul Muhammad saw, semua Ummul Mu’minin (istri-istri Nabi saw), ada juga Hajar ibunda Ismail yang memiliki ketegaran luar biasa. Ibadah haji mengabadikan ketegaran Hajar ibunda Ismail yakni sa’I berlari-lari dari shawa ke marwah untuk mendapatkan air kehidupan bagi putra tercintanya. Di tengah gurun pasir yang gersang ia lakukan hal ini, bolak-balik tujuh kali dari shafa ke marwah tanpa ia pedulikan kelelahan tubuhnya hingga akhirnya air itu pun memancar dan yang kemudian mewujud adalah peradaban kemanusiaan dan bahkan seluruh manusia setiap tahun berbondong-bondong ke tempat itu dimana ia telah bersusah payah mencari air kehidupan bagi anaknya dan kemudian berkahnya kehidupan peradaban manusia dengan ibadah dan ketundukan kepada Allah swt dalam rangkaian ibadah haji. Hajar ibunda Ismail juga tampak demikian teguh pendirian dengan kekokohan imannya ketika sang suami, Ibrahim as, meninggalkannya karena perintah Allah swt. Ia berusaha meyakinkan dengan bertanya kepada Ibrahim : apakah ini perintah Allah? Ibrahim dengan perasaan sedih tak tertahankan karena harus meninggalkan istri dan anaknya tercinta di tengah gurun pasir yang gersang dengan sengatan panas tak terkirakan, memberikan jawaban : Ya, ini adalah perintah Allah swt. Apa yang kemudian dikatakan oleh Hajar ibunda Ismail?
“Kalau memang ini adalah perintah Allah, tinggalkan aku bersama Ismail di sini. Semoga Allah memberikan petunjukNya kepadaku.” Ah, gambaran apalagi yang bisa kita berikan untuk menunjukkan ketegaran semacam ini?
Iman kita kepada Allah harus terbuktikan, diantaranya, dengan kesungguhan bakti kita kepada orang tua terutama kepada Ibu. Suatu ketika seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulallah, siapakah yang harus aku pergauli dengan baik di kehidupan dunia ini? Beliau saw menjawab, “Ibumu.” Shahabat itu bertanya lagi, “Lalu setelah itu, siapa lagi ya Rasulallah?” Jawan Rasulullah saw, “Ibumu.” dua kali sudah Rasulullah saw memberikan jawaban yang sama. Untuk ketiga kalinya, shahabat tersebut bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi, ya Rasulallah?” Apa jawaban Rasulullah saw? Untuk pertanyaan yang ketiga ini pun Rasulullah saw tetap memberikan jawaban yang sama : “Ibumu.” Baru pada pertanyaan yang keempat ketika shahabat tadi masih juga bertanya, “Lalu siapa lagi ya Rasulallah?” Beliau saw kemudian baru memberikan jawaban : “Bapakmu.
Setelah semua demikian jelas di hadapan kita dari petunjuk Allah dan RasulNya, lalu pertanyaan renungan yang tampaknya mesti kita jawab adalah : apakah yang sudah kita lakukan sebagai bakti kita kepada kedua orang tua kita? Bakti kita kepada Ibu kita? Masihkah kita terus-terusan membebani kehidupan beliau berdua? Apa yang sudah kita upayakan untuk membahagiakan ibu kita? Sungguh, keridloan keduanya adalah ekspresi nyata keridloan Allah swt.
Demikian pula, kemurkaannya adalah cermin nyata kemurkaan Allah swt kepada kita. Meskipun memang bakti kita kepada orang tua tidak membabi buta. Tetap ada batasan, yakni sepanjang dalam kerangka ketaatan kepada Allah swt. Sehingga jika yang mereka perintahkan kepada kita adalah kemaksiatan atau kakafiran, maka tidak ada ketaatan yang perlu kita lakukan
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman/31:15)
Ibu adalah perempuan mulia yang harus kita muliakan. Sebab ia menjadi perantara keberadaan kita di dunia, pendidik pertama kita tentang kehidupan, curahan kasih sayangnya tak ternilai oleh kebaikan apapun yang telah kita lakukan untuknya, cintanya kepada kita tanpa pamrih, doa dan harapannya selalu dipanjatkan untuk kebahagiaan hidup kita. Barangkali ibu kita sedang tidak bersama kita, namun jiwanya senantiasa ia isi dengan kehadiran diri kita anaknya ini. Bisa jadi kita sedemikian durhaka dan bersikap kasar kepadanya, namun ibu tak mampu menghilangkan kasih sayangnya kepada kita. Perlakuan apapun seorang anak kepada ibunya, ibu itu tetap menyayanginya. Tak kan terhapus cinta tulusnya kepada anaknya. Tengah malam ia tengadahkan kedua tangannya ke langit, lalu untaian doa demikian indah ia susun lewat lisannya yang ia minta adalah keselamatan dan kebahagiaan buat buah hatinya tercinta. Tangis yang pecah di tengah senyapnya malam adalah ketika ia ingat dan rindu kepada anaknya yang sedang tidak berada di sisinya. Lisannya tak pernah kering dari dzikir dan munajat penuh ketulusan yang ia sampaikan kepada penguasa alam , penggenggam segala urusan, penentu segala sesuatu : Allah swt. Ibu adalah sosok mulia yang penuh cinta dan kasih sayang kepada anak-anaknya. Di akhir malam, ketika ia mulai beranjak ke peraduan, tergambar dengan begitu jelas wajah anaknya. Lalu, air matanya kembali menetes membasahi wajah tuanya. Di usia yang semakin renta, ia hanya mengharap kebahagiaan anaknya dan doa ketulusan dari kita kepadanya.
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh…Lewati rintangan demi aku anakmu…
Ibuku sayang masih terus berjalan…Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah…Seperti udara kasih yang engkau berikan…Tak mampu ku membalas…Ibu…Ibu… (Syair lagu “Ibu”, Iwan Fals)
(Ustadz Sigit Yulianta M.S.I)
Hadirkan dalam benak kita, seorang perempuan yang dengan susah payah tengah melahirkan bayi yang dikandungnya. Rasa sakit yang tak mampu terucap lewat kalimat, rintihan tangis menahan kepedihan menanggung beban yang tak ringan dalam perutnya yang hingga 9 bulan ia bawa kemana-mana, harap dan cemas yang selalu terasakan dalam jiwa yang dengannya ia hanya mampu bersandar kepada pencipta dirinya dan yang Maha Kuasa menentukan segalanya…terus hadirkan bayangan itu dalam benak kita…ketika bayi yang dikandungnya benar-benar lahir dengan selamat disertai tangis saat keluar menghirup udara dunia, perempuan itu tersenyum lebar seolah lenyap rasa sakit, pedih dan perih yang baru saja ia rasakan…berganti kebahagiaan yang tak terkatakan. Kelelahan badan tidak ia rasakan meski butiran keringat memenuhi sekujur tubuh dan wajahnya yang tampak letih. Air mata kebahagiaan mengalir di kedua pipinya sambil terus saja ia menciumi buah hatinya yang baru beberapa saat lahir dari perutnya. Siapakah perempuan itu? Dia adalah ibu kita. Ya, ibu kita…sosok tegar namun penuh kasih sayang yang telah melahirkan kita. Ibu yang dengan kasih sayangnya mengasuh, merawat dan membesarkan kita. Ibu yang dengan segenap cintanya yang tulus telah mendidik diri kita. Pengorbanan yang luar biasa telah ia lakukan, peluh dan keringat seolah hampir habis tertumpah demi membahagiakan kita, tidak jarang air mata tak tertahankan keluar menetes membasahi pipinya saat kita sakit dan menderita.
Ia tak pernah rela kita mengalami kesusahan, ia ikut merasakan kesedihan saat kita berteman dengan penderitaan, ia isi hati dan fikirannya untuk kebahagiaan anaknya, kita. Lalu, apa yang sudah kita lakukan untuk ibu kita? Balasan apa yang sudah kita persembahkan untuk perempuan mulia itu? Kalimat apa yang terucap lewat lisan kita saat kita dipanggil dan diminta bantuan olehnya? Manakah yang lebih mengemuka dari sikap kita kepada ibu yang telah entah berapa lama mencurahkan kasih sayangnya kepada kita itu? Ada baiknya kita renungi dalam-dalam firman Allah swt berikut ini :
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman/31:14)
Ibu memang sosok yang demikian dimuliakan oleh Islam. Al-Ummu madrasat al-Ulaa liaulaadihaa (seorang Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya). Ungkapan ini saya kira tidak berlebihan mengingat dari ibulah seorang anak pertama kali mendapatkan pelajaran kehidupan setelah karunia hidayah naluri dan hidayah lainnya yang telah Allah berikan kepadanya. Sepanjang perjalanan sejarah kemanusiaan, kita temukan ada Aminah ibunda Muhammad saw, Bunda Khadijah yang penyayang kepada anak-anaknya buah hatinya bersama Rasul Muhammad saw, semua Ummul Mu’minin (istri-istri Nabi saw), ada juga Hajar ibunda Ismail yang memiliki ketegaran luar biasa. Ibadah haji mengabadikan ketegaran Hajar ibunda Ismail yakni sa’I berlari-lari dari shawa ke marwah untuk mendapatkan air kehidupan bagi putra tercintanya. Di tengah gurun pasir yang gersang ia lakukan hal ini, bolak-balik tujuh kali dari shafa ke marwah tanpa ia pedulikan kelelahan tubuhnya hingga akhirnya air itu pun memancar dan yang kemudian mewujud adalah peradaban kemanusiaan dan bahkan seluruh manusia setiap tahun berbondong-bondong ke tempat itu dimana ia telah bersusah payah mencari air kehidupan bagi anaknya dan kemudian berkahnya kehidupan peradaban manusia dengan ibadah dan ketundukan kepada Allah swt dalam rangkaian ibadah haji. Hajar ibunda Ismail juga tampak demikian teguh pendirian dengan kekokohan imannya ketika sang suami, Ibrahim as, meninggalkannya karena perintah Allah swt. Ia berusaha meyakinkan dengan bertanya kepada Ibrahim : apakah ini perintah Allah? Ibrahim dengan perasaan sedih tak tertahankan karena harus meninggalkan istri dan anaknya tercinta di tengah gurun pasir yang gersang dengan sengatan panas tak terkirakan, memberikan jawaban : Ya, ini adalah perintah Allah swt. Apa yang kemudian dikatakan oleh Hajar ibunda Ismail?
“Kalau memang ini adalah perintah Allah, tinggalkan aku bersama Ismail di sini. Semoga Allah memberikan petunjukNya kepadaku.” Ah, gambaran apalagi yang bisa kita berikan untuk menunjukkan ketegaran semacam ini?
Iman kita kepada Allah harus terbuktikan, diantaranya, dengan kesungguhan bakti kita kepada orang tua terutama kepada Ibu. Suatu ketika seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulallah, siapakah yang harus aku pergauli dengan baik di kehidupan dunia ini? Beliau saw menjawab, “Ibumu.” Shahabat itu bertanya lagi, “Lalu setelah itu, siapa lagi ya Rasulallah?” Jawan Rasulullah saw, “Ibumu.” dua kali sudah Rasulullah saw memberikan jawaban yang sama. Untuk ketiga kalinya, shahabat tersebut bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi, ya Rasulallah?” Apa jawaban Rasulullah saw? Untuk pertanyaan yang ketiga ini pun Rasulullah saw tetap memberikan jawaban yang sama : “Ibumu.” Baru pada pertanyaan yang keempat ketika shahabat tadi masih juga bertanya, “Lalu siapa lagi ya Rasulallah?” Beliau saw kemudian baru memberikan jawaban : “Bapakmu.
Setelah semua demikian jelas di hadapan kita dari petunjuk Allah dan RasulNya, lalu pertanyaan renungan yang tampaknya mesti kita jawab adalah : apakah yang sudah kita lakukan sebagai bakti kita kepada kedua orang tua kita? Bakti kita kepada Ibu kita? Masihkah kita terus-terusan membebani kehidupan beliau berdua? Apa yang sudah kita upayakan untuk membahagiakan ibu kita? Sungguh, keridloan keduanya adalah ekspresi nyata keridloan Allah swt.
Demikian pula, kemurkaannya adalah cermin nyata kemurkaan Allah swt kepada kita. Meskipun memang bakti kita kepada orang tua tidak membabi buta. Tetap ada batasan, yakni sepanjang dalam kerangka ketaatan kepada Allah swt. Sehingga jika yang mereka perintahkan kepada kita adalah kemaksiatan atau kakafiran, maka tidak ada ketaatan yang perlu kita lakukan
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman/31:15)
Ibu adalah perempuan mulia yang harus kita muliakan. Sebab ia menjadi perantara keberadaan kita di dunia, pendidik pertama kita tentang kehidupan, curahan kasih sayangnya tak ternilai oleh kebaikan apapun yang telah kita lakukan untuknya, cintanya kepada kita tanpa pamrih, doa dan harapannya selalu dipanjatkan untuk kebahagiaan hidup kita. Barangkali ibu kita sedang tidak bersama kita, namun jiwanya senantiasa ia isi dengan kehadiran diri kita anaknya ini. Bisa jadi kita sedemikian durhaka dan bersikap kasar kepadanya, namun ibu tak mampu menghilangkan kasih sayangnya kepada kita. Perlakuan apapun seorang anak kepada ibunya, ibu itu tetap menyayanginya. Tak kan terhapus cinta tulusnya kepada anaknya. Tengah malam ia tengadahkan kedua tangannya ke langit, lalu untaian doa demikian indah ia susun lewat lisannya yang ia minta adalah keselamatan dan kebahagiaan buat buah hatinya tercinta. Tangis yang pecah di tengah senyapnya malam adalah ketika ia ingat dan rindu kepada anaknya yang sedang tidak berada di sisinya. Lisannya tak pernah kering dari dzikir dan munajat penuh ketulusan yang ia sampaikan kepada penguasa alam , penggenggam segala urusan, penentu segala sesuatu : Allah swt. Ibu adalah sosok mulia yang penuh cinta dan kasih sayang kepada anak-anaknya. Di akhir malam, ketika ia mulai beranjak ke peraduan, tergambar dengan begitu jelas wajah anaknya. Lalu, air matanya kembali menetes membasahi wajah tuanya. Di usia yang semakin renta, ia hanya mengharap kebahagiaan anaknya dan doa ketulusan dari kita kepadanya.
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh…Lewati rintangan demi aku anakmu…
Ibuku sayang masih terus berjalan…Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah…Seperti udara kasih yang engkau berikan…Tak mampu ku membalas…Ibu…Ibu… (Syair lagu “Ibu”, Iwan Fals)
(Ustadz Sigit Yulianta M.S.I)
Rabu, 06 Juli 2011
Sabtu, 02 Juli 2011
CONTOH SOAL
Contoh soal mengenai PEREKONOMIAN INDONESIA dan Ekonomi Pembangunan.
1. Bagaimanakah cara pemerintah untuk dapat mempercepat arus pembangunan di indonesia?
Ada 10 strategi pemerintah untuk mempercepat pembangunan:
1.Pertumbuhan pembangunan ekonomi harus lebih tinggi;
2. Pengangguran harus menurun dengan menciptakan lapangan kerja lebih banyak;
3. Tingkat kemiskinan harus semakin menurun;
4. Pendapatan per kapita harus meningkat;
5. Stabilitas ekonomi harus terjaga;
6. Pembiayaan (financing) dari dalam negeri harus kuat dan meningkat;
7. Ketahanan pangan dan air;
8. Ketahanan energi;
9. Daya saing ekonomi makin meningkat;
10. Green economy atau ekonomi ramah lingkungan.
2. Pengangguran harus menurun dengan menciptakan lapangan kerja lebih banyak;
3. Tingkat kemiskinan harus semakin menurun;
4. Pendapatan per kapita harus meningkat;
5. Stabilitas ekonomi harus terjaga;
6. Pembiayaan (financing) dari dalam negeri harus kuat dan meningkat;
7. Ketahanan pangan dan air;
8. Ketahanan energi;
9. Daya saing ekonomi makin meningkat;
10. Green economy atau ekonomi ramah lingkungan.
2. Ada beberapa permasalahan dalam bidang ekonomi di Indonesia. Berikan penjelasan menurut pendapat anda?
Secara garis besar ada 4 permasalahan Ekonomi Indonesia yang mendasar, yaitu :
· kondisi mikro sektor perbankan dan dunia usaha serta dampaknya terhadap kondisi makro ekonomi,
· Tingkat kompleksitas skala permasalahan yang dihadapi serta dampaknya terhadap implementasi kebijakan ekonomi,
· kondisi sosial politik dan keamanan serta kaitannya dengan risiko usaha,
· kondisi ekonomi global
UJIAN AKHIR SEMESTER
UJIAN AKHIR SEMESTER MATA KULIAH EKONOMI PEMBANGUNAN
Nama : Novenda Durrin Riza
NIM : 01209072
Kelas : Reguler A
Dosen : Hj. I. G. A. Aju Nitya Dharmani, SST, SE, MM
- Pemerintah harus menetapkan kebijakan pembangunan yang tepat demi berhasilnya rencana pembangunan dan untuk menghindari kesulitan yang mungkin timbul dalam proses pelaksanaannya. Lewis mencatat unsur-unsur utama kebijaksanaan pembangunan, sebutkan dan jelaskan pendapat Lewis tersebut.
- Jelaskan faktor apa saja yang mendukung peluang kapitalisasi di NSB.
- Sebutkan dan jelaskan faktor apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat.
- Kemiskinan mempunyai pengertian yang sangat luas dan sulit untuk melakukan pengukuran, namun demikian beberapa ahli mengklasifikasikan kemiskinan berdasarkan kriteria umum yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif, jelaskan kedua kriteria tersebut.
- Jelaskan yang dimaksud dengan Teknologi Tepat Guna dan Produk Tepat Guna yang berkaitan dengan hubungan TNC di Negara Berkembang berdasarkan pada pendapat para ahli.
Jawaban :
1. Dalam hal ini Lewis mencatat unsur-unsur utama kebijaksanaan pembangunan yang meliputi:
(i) penyelidikan potensi pembangunan; survei sumberdaya nasional, penelitian ilmiah; peneli-tian pasar;
(ii) penyediaan prasarana yang memadai (air, listrik, transportasi dan telekomunikasi) apakah oleh badan usaha negara atau swasta;
(iii) penyediaan fasilitas latihan khusus dan juga pendidikan umum yang memadai untuk menyediakan ketrampilan yang diperlukan;
(iv) perbaikan landasan hukum bagi kegiatan perekonomian, khususnya peraturan yang berkaitan dengan hak atas tanah, perusahaan, dan transaksi ekonomi;
(v) bantuan untuk mencip¬takan pasar yang lebih banyak dan dan lebih baik;
(vi) menemukan dan membantu pengusaha yang potensial, baik dalam negeri maupun luar negeri;
(vii) peningkatan pemanfaatan sumber daya secara lebih baik, baik swasta maupun negara.
Keberhasilan perencanaan pembangunan dapat dinilai terutama dengan menguji berbagai usulan dari masing-masing unsur tersebut. Kebijaksanaan yang baik dapat membantu keberhasilan suatu perencanaan, tetapi dia tidak dapat menjamin keberhasilan. Karenanya, Lewismenyamakan perencanaan pembangunan dengan obat. Obat yang berada di tangan seorang praktisi yang baik dapat memberikan hasil yang anjur,tetapi masih mungkin terjadi bahwa pasien yang diharapkan hidup ternyata mati dan yang diharapkan mati ternyata hidup.
2. Beberapa faktor yang mendukung kapitalisai :
1. Mobilitas yang meningkat memberi korporasi para pekerja dan masyarakat lebih berkuasa.
2. Kasino keuangan global.
3. Reformasi MAI dan IMF
Capitalitation adalah suatu konsep yang licik, dimana proses tersebut merupakan terminal uang dan bisa diputar sejauh mana keinginan si pemegang uang. Pelarian modal berhubungan erat dengan ketidakpastian dan beban risiko berkaitan dengan kas atau pemegang modal pada suatu wilayah. Penduduk mengambil uang mereka dan melarikan ke luar negeri karena ketakutan akan risiko yang tinggi atas modal-modal mereka.
3. Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi:
Faktor ekonomi yang meliputi :
- SDM
- SDA
- Modal usaha
- Teknologi
Faktor non ekonomi yang meliputi :
- Budaya
- Nilai moral
- Kondisi politik
- Kelembagaan di negara tersebut
4. Kemiskinan relatif adalah suatu ukuran mengenai kesenjangan di dalam distribusi pendapatan, biasanya dapat didefinisikan didalam kaitannya dengan tingkat rata-rata dari distribusi yang dimaksud.
Kemiskinan absolut adalah derajat kemiskinan dibawah, dimana kebutuhan-kebutuhan minimum untuk bertahan hidup tidak dapat terpenuhi.
5. Teknologi tepat guna adalah teknologi yang dirancang bagi suatu masyarakat tertentu agar dapat disesuaikan dengan aspek-aspek lingkungan, keetisan, kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Dari tujuan yang dikehendaki, teknologi tepat guna haruslah menerapkan metode yang hemat sumber daya, mudah dirawat, dan berdampak polutif minimalis dibandingkan dengan teknologi arus utama, yang pada umumnya beremisi banyak limbah dan mencemari lingkungan.
Istilah teknologi tepat guna mulai muncul menyusul krisis minyak 1973 dan pergerakan lingkungan pada dasawarsa 1970-an. Istilah ini biasanya digunakan di dalam dua wilayah: memanfaatkan teknologi paling efektif untuk menjawab kebutuhan daerah pengembangan, dan memanfaatkan teknologi yang ramah lingkungan dan ramah sosial di negara maju.
Produk tepat guna adalah suatu barang yang diproduksi sesuai dengan kondisi-kondisi yang sedang berkembang di masyarakat. Sehingga masyarakat dapat memanfaatkan produk-produk tersebut sesuai dengan tujuan yang di kehendaki.
Jumat, 01 Juli 2011
Doa Seorang Ibu
stinging heat
rain storm that hit
But a mother's determination will not fade for his struggle for the children he loved, in order to be successful and succeed in life
wake up at night after our mother, she was praying night and pray for us, but we just fell asleep without knowing the atmosphere that occurs
mother struggled tirelessly, to send their children even by borrowing money from everywhere, but he was willing to suffer just for the sake of her child
how godless a child with no more affection for his mother
rain storm that hit
But a mother's determination will not fade for his struggle for the children he loved, in order to be successful and succeed in life
wake up at night after our mother, she was praying night and pray for us, but we just fell asleep without knowing the atmosphere that occurs
mother struggled tirelessly, to send their children even by borrowing money from everywhere, but he was willing to suffer just for the sake of her child
how godless a child with no more affection for his mother
Langganan:
Postingan (Atom)


